Waktu menunjukkan pukul 13.00 gong. Siang lagi bolong, matahari lagi monyong. Saat yang tepat untuk eksis di luaran dong!
Sekarang musim panas. Musim yang sangat ditunggu oleh hampir semua orang yang peduli akan kecantikan dan penampilan. Aku sendiri sudah siap dengan setelan tanktop dan celana pendekku. Gang centil-centilanku sudah beberapa kali menelepon, memastikan aku sudah berangkat. Mereka sudah menungguku di salah satu tempat berjemur paling hits yang biasa kami sambangi di hampir setiap hari libur pada jam-jam bolong begini.
Aku memang agak telat. Tadi aku membantu Mama maskeran. Masker khusus untuk usia 50 tahun ke atas yang selain bisa menghilangkan kerutan, juga bisa menambah intensitas kegelapan. Aku iri pada Mama-ku. Mengapa kulitnya bisa hitam begitu? Ini semua karena Papa-ku. Ia yang kulitnya putih bersih. Papa sih tak pedulian orangnya.
"Sudah dikasih kulit begini, mau diapain lagi?!" Begitulah ia berkilah sekaligus menasehati aku agar tak terlalu pusing memikirkan penampilan.
Sulit sekali untuk membuat kulitku menjadi hitam - apalagi hitam legam. Jika terlalu lama berpanas-panasan, kulitku hanya akan bersemu kemerahan. Memalukan!
Tapi sebenarnya membantu Mama maskeran memang tak terlalu makan waktu lama. Setengah jam lainnya aku habiskan untuk menonton infotainment. Tayangan gosip edisi hari ini nampak sayang untuk dilewatkan karena isinya artis-artis kesukaanku semua! Laudya Cintya Bella, Rianti Cartwright, dan Cut Tari. Aku nge-fans sama mereka soalnya mereka cantik-cantik. Kulitnya hitam legam nyaris tanpa cela. Bibirnya juga kehitaman senada dengan warna kulit wajahnya. Aku sontak berkaca membandingkan wajah mereka dengan wajahku. Bibirku merah sekali! Sialan!
Lalu artis laki-lakinya ada Tenku Wisnu dan Indra Brugman. Mereka kok nampaknya semakin hitam ya? Ah mungkin mereka suntik hitam. Pasti mahal!
Aku ingat sekali, dulu sewaktu aku SD, aku tak sebergaul sekarang. Dulu aku pendiam karena kulit yang putih bersinar ini! Aku membenci kulitku. Ingin rasanya aku mengulitinya dan menguliti kulit Gayatri, temanku yang paling hitam, lalu menempelkan kulit keparatnya itu ke seluruh tubuhku menggantikan kulitku yang putih menjijikkan ini. Gayatri itu orangnya sok! Mentang-mentang memiliki kulit yang paling hitam, kerjaannya pamer di depan semua orang.
Aku juga menyalahkan kulit putihku ini atas ketidakmungkinan diriku mengikuti ajang bergengsi macam Puteri Indonesia yang mengusung persyaratan 3B. Brain aku punya. Behaviour jangan ditanya! Tapi Black? Itu lah yang membuatku tak kunjung lolos dengan suksesnya, bahkan di tahap paling pertama.
Aku baru saja ingin mematikan televisi sebelum pergi. Ah tapi aku mengurungkan niatku, karena tiba-tiba saja ada tayangan berita terkini. Presiden Amerika berkunjung ke Indonesia! Aku bangga sekali. Beliau adalah orang kulit putih pertama yang berhasil menjadi orang nomor satu Amerika. Ya sebagai kaum yang selama ini dianggap hina, akhirnya Mr. Obama berhasil juga memasuki Black House. Keren! Sebagai orang yang berkulit putih, aku bisa merasakan aura-aura kesuksesannya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi lagi. Ah aku tersadar aku semakin terlambat. Kulirik jam, jarumnya menunjukkan pukul 13.07. Pasti sudah pada kesal nih, karena kami janjian sejam lalu.
Aku beranjak keluar rumah sesaat setelah aku mematikan televisi yang baru selesai menayangkan iklan kosmetik berjargon "cantik itu hitam" sebagai sponsor acara berita terkini itu. Aku ingin sekali membeli krim itu, namun kabarnya kalau krim penghitam seperti itu tak baik untuk kesehatan kulit. Yah memang, bagi kita orang awam, yang instan-instan itu walaupun menggiurkan namun efeknya siapa yang tahu, kan?! Jadi aku mencoba yang alami saja lah.
Monday, November 22, 2010
Ulang Tahun Sweet Seventeen
Frida mengagumi bayangannya di cermin. Ia akan menghadiri pesta ulang tahun sweet seventeen. Karena itulah dia merasa harus berdandan dan bergaya sekeren mungkin.
Semuanya sudah siap... dari gaun hingga makeup.
Pestanya diadakan di sebuah cafe yang memegang tampuk sebagai tempat gaul anak muda masa kini. Maka Frida mempersiapkan semua dengan teliti, jangan sampai ada yang terlewati. Persiapan dilakukan dari jauh-jauh hari.
Frida telah siap dengan hal yang paling penting, setelan. Pilihannya jatuh pada gaun mini berwarna hitam. Bagian atasnya bermodel backless, sehingga memperlihatkan seluruh bagian lengan hingga punggungnya. Bagian bawahnya dihiasi renda yang manis, memamerkan paha hingga ujung jari kakinya.
Jari-jari kakinya dibungkus oleh sepasang sepatu bermotif animal-print. Tak sedikit anak muda masa kini yang menggandrungi motif itu.
Baju dan sepatunya itu dibelinya dari butik yang sedang banyak dibicarakan anak muda masa kini.
Rambutnya disanggul cepol di belakang kepalanya dengan efek-efek sedikit berantakan agar tak terkesan terlalu formal. Tatanan rambut demikian pun memperlihatkan tengkuknya. Tak lupa dilengkapi dengan sentuhan poni model terkini yang menutupi dahi.
Riasannya tak terlalu tebal. Tipis-tipis saja. Sekarang memang sedang musimnya gaya makeup natural. Namun dengan sedikit tambahan glitter di pelipis dan kelopak mata, menambahkan kesan glamor.
Gaya rambut dan riasan seperti ini diulas di majalah gaul anak muda yang menjadi panutan fashion anak muda masa kini.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kamarnya, “Frida, sudah siap?!”
Suara pria itu terdengar tua.
"Budi sudah sampai, tuh... ngejemput!"
Frida menghela napasnya, "Iya sudah!"
Pelan-pelan ia membuka pintu kamarnya dan memasang senyum manis. Ia telah merahasiakan rencana penampilannya ini pada siapapun. Termasuk ke pria bersuara tua itu. Biar jadi kejutan, katanya.
Begitu melihat penampakan Frida secara utuh, Pria yang tadi mengetuk pintu kamar itu ternganga. Matanya terbelalak. Napasnya tersengal.
Thursday, October 14, 2010
"Somebody Posted on Your Wall"
Marina Setiawati tengah terpaku pada sebuah situs yang didominasi warna biru. Sudah seminggu, dengan antusias dia selalu mengecek situs jejaringnya itu... setiap hari, setiap waktu. Penyebabnya adalah seorang kenalan baru yang rutin saling bertukar sapa di situ.
Kali ini, ada sebuah notifikasi baru.
Marina mengeklik link yang diberikan. Terbukalah sebuah halaman, berisi tulisan:
"Hai Marina... Nggak menyapa kamu atau dapat kabar dari kamu sehariii saja, sudah bikin aku kangen. Kapan kita bisa ketemu? With love :)"
Marina senyum-senyum sendiri. Dibukanya halaman profil sang pemberi pesan tersebut. Terbukalah sebuah halaman dinding seseorang dengan akun Mario Setyo . Marina menulis di sebuah kotak kosong bertuliskan 'write something'.
"Hai Mario, aku juga kangen. Tapi aku belum bisa ketemu. Iya sama. Sehari nggak ngobrol sama kamu lewat facebook, kayanya nggak lengkap deh :)"
@@@
Mario Setyo senyum-senyum sendiri melihat halaman dinding facebook-nya. Penyebabnya adalah sebuah pesan dari pemilik akun facebook bernama Marina Setiawati.
“Hai Mario. Aku juga kangen. Tapi aku belum bisa ketemu. Iya sama. Sehari nggak ngobrol sama kamu lewat facebook, kayanya nggak lengkap, deh :)"
Mario pun membalasnya dengan meninggalkan pesan di halaman dinding Marina:
“Walaupun kita tak pernah ketemu sebelumnya, aku tahu kita berjodoh. Buktinya, nama kita mirip! Yaah, kita berharap saja, semoga kita bisa cepat ketemu. Hehe... Ada kabar apa?"
@@@
Marina dan Mario, keduanya sedang dilanda asmara maya. Kisah cinta lewat dunia tak nyata. Mereka baru saling menyapa di facebook selama seminggu. Namun hati mereka bisa cepat menyatu.
@@@
Mario baru saja selesai ber-facebook-ria. Dia mengeklik tulisan sign out untuk menyudahinya. Dia beranjak ke ruang makan untuk melepas dahaga. Lalu kembali lagi ke kamarnya untuk mengistirahatkan mata.
Dua jam kemudian, dia terjaga. Hal pertama yang dilakukannya adalah menghampiri laptop-nya. Dengan facebook, tentu saja, sebagai tujuan utama. Tanpa ragu, dia langsung menuju ke akun facebook-nya...
Akun facebook-nya yang lain...
... Marina Setiawati.
Ada notifikasi baru di sana:
“Mario Setyo posted on your wall”.
Dia membuka isinya dan senyum-senyum sendiri membacanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

