My Profile

My photo
Jakarta and Bandung, Indonesia
Just an engineer who loves what she does and does what she loves (engineering stuffs not included)

My Time

My Living Room


ShoutMix chat widget

Who Visit Me

Kasih Makan Ikan Saya yaa!!

My Followers

Showing posts with label Kisah Barbara. Show all posts
Showing posts with label Kisah Barbara. Show all posts

Tuesday, February 16, 2010

Alay Seksi (Bagian 3)

(Cerita sebelumnya...)

***

“Aku benar-benar jatuh cinta padamu sampai gila!”

Barbara tertohok sejadi-jadinya. Sesaat ia membayangkan hubungannya dengan Alay jika mereka jadian. Ah... betapa kontroversialnya seperti Mike Lewis dan Tamara Blezynski. Namun dibalik itu, ah... betapa cute-nya, seperti Yoko dan Bibi Lung.

“Aku ingin menikahimu. Aku ingin kau menjadi bagian dalam hidupku. Selamanya!”

Sekarang Barbara membayangkan bagaimana pernikahan mereka nanti. Betapa serunya apabila tamu-tamunya nanti adalah para vampir dan manusia serigala. OMG! Itu bisa menjadi pernikahan paling eksotis abad ini.

“Dan liburan ini aku mau ke Amerika mengunjungi keluargaku yang ada di sana. Aku ingin memperkenalkan kamu ke keluargaku.

Sekarang pikiran Barbara melayang ke Negara itu. Ia membayangkan bertemu dengan artis-artis papan atas kesayangannya: John Stamos, Cinthya Rothrock, Chuck Noris, hingga Tomy Page. Dan ia akan berfoto bersama mereka untuk dipajang di facebook-nya. Cool!

“Bagaimana? Kamu mau kan jadi pacarku? Aku kan keren!”

Barbara tersadar dari lamunannya dan membuang semua imajinasi liar itu jauh-jauh.

“Ehem...” Barbara membersihkan kerongkongannya, padahal tak berdahak. Itu hanya sebagai aksen agar menutupi ke-salting-annya. “Alay… karena kau sudah jujur padaku. Inilah saatnya aku untuk jujur,” ia berhenti sejenak.

Mata mereka beradu. Walaupun gugup menanti jawaban yang akan keluar dari mulut gadis manis di hadapannya, namun Alay yakin bahwa Barbara pasti akan menerima cintanya.

“S-sebenarnya, a-aku sudah punya p-pacar, Lay,” katanya gagap sembari menatap dalam-dalam mata Alay.

Rahang Alay mengeras, giginya menggemeletuk, matanya menyipit, napasnya mendengus, telinganya meruncing, perasaannya menjadi tak karuan. Alay merasa seperti jatuh setelah terbang sangat tinggi.

“Kenapa kau baru mengatakan ini padaku? Tak tahukah betapa aku jatuh cinta padamu semenjak kita bertubrukan di depan WC waktu itu? Tak tahukah kau bahwa aku semakin jatuh cinta padamu saat melihat rambutmu tersibak angin di bawah sorotan lampu jalan malam itu?” matanya kini berkaca-kaca. Ekspresinya tepat seperti saat Fernando Jose Altamirano ditinggalkan oleh Rosalinda Ayamo.

“A-aku juga tertarik padamu kala itu. Namun kau datang terlambat. Hatiku sudah kutambatkan pada pelabuhan jiwaku. Dia adalah Sumanto, kekasihku. Ah, jika saja kau datang lebih cepat!”

Alay kecewa bukan kepalang. Dia tak tahu apa yang dilakukannya di sana, bersama gadis yang sangat dicintainya, namun tak berdaya, karena ia telah memiliki kekasih adanya.

“Kalau begitu kita sudahi saja pertemuan kita sampai di sini. Semoga kau berbahagia dengan kekasihmu!” buliran air mata sudah membasahi pipinya tepat saat ia memalingkan wajahnya dari barbara.

Barbara merasakan kepedihan dari pemandangan itu. Ingin rasanya ia menghambur untuk memeluknya. Namun takutnya, kalau sudah pelukan bisa terjadi hal-hal yang diinginkan.

“Tapi, Lay… kita masih memiliki harapan, walaupun secuil.”

“Ha-ha-r-rap-pan a—hap-pah?” Alay mencoba berbicara sembari terisak, ternyata susah juga. Alay memang sudah lama tak menangis. Terakhir Alay tersedu sedan adalah saat ia menonton AADC beberapa tahun lalu, pada adegan dimana Rangga bertengkar dengan Cinta, hingga Cinta mengeluarkan kata-kata 'Jadi salah gue?! Salah temen-temen gue?!'

“Lay, ingatlah Johan!”

Johan?” Alay bingung. “Siapa lagi dia? Bukankah nama pacar kamu itu Sumanto? Sebenarnya pacar kamu itu berapa sih?” nada suara Alay meninggi tanda emosi.

Bukan, Lay!! Johan... Jodoh di tangan Tuhan!” Barbara menjawab dengan suara lembut untuk meredakan ketegangan.

Alay mengatur napasnya. Ia merasa malu sudah meneriaki gadis itu. Dadanya yang bidang, kencang, dan licin karena diolesi body balm naik-turun mengatur napasnya yang tersengal.

Barbara menyentuh tangan Alay, “Kalau anumu sudah agak gedean…”

Anu-ku?” Alay bingung. Malam itu Alay memang jadi sering ling-lung.

“Euuh... maksudku umurmu. Kalau umurmu sudah agak besar, siapa tahu kita akan ketemu lagi dan kita akan menjadi pasangan, walapun nanti kau akan dicap pacaran sama tante-tante dan aku dicap sebagai pencinta brondong. Namun itu masih lama. Kau masih punya kehidupan yang luas di hadapanmu. Percayalah! Lagipula dunia tak selebar daun kelor! Barbara menjelaskan dengan sabar. Sekarang matanya ikut-ikutan berkaca-kaca. Bukan apa-apa, hanya ada debu yang menempel di matanya, tapi ia tak mau menguceknya karena takut bulu mata palsunya rusak.

Alay menyerap kata-kata indah yang keluar dari bibir seksi nan dibalut oleh suara yang merdu itu. Dalam hati ia menghitung-hitung. Dalam waktu lima tahun lagi, ia akan berumur 20-an dan tentunya umur Barbara juga akan bertambah lima. Jadi berapa ya umurnya nanti? Alay memang sangat lemah dalam berhitung cepat.

Baiklah, Barbara. Sekarang aku mengerti. Karena anuku masih kecil…”

Anumu kecil?” Barbara memotong kata-kata Alay.

Maksudnya, karena umurku masih kecil, maka aku harap di masa depan, saat anuku... euh maksudku umurku sudah agak gedean, kita akan bertemu lagi. Dan semoga kita berjodoh,” Alay berkata tulus.

Barbara mengangguk mantap sok imut a la gadis-gadis jepang, dengan mulut agak dimanyunkan, bagian hidung agak dikerutkan, dan mata disipit-sipitkan.

“Baiklah, Barbara. Aku rasa aku akan pergi!” Alay berkata mantap. Ia mencium telapak tangannya kemudian meniupkan ciuman itu melalui angin. Istilahnya mah kiss bye!

Alay membalikkan badannya menjauhi Barbara. Namun saat ia berjalan beberapa langkah menuju pintu keluar restoran itu, Barbara seperti teringat sesuatu.

“Alay… tunggu!! Ada satu hal lagi!”

Alay menengok lambat-lambat.

Maaf... Tapi aku pulang pake apa ya? Di sini kan tidak lewat angkot, wajah Barbara memelas, yang tentu saja membuat Alay gemas, ingin meremas, lalu keramas.

“Oh betul juga ya! Tapi... ah, maaf! Aku sedang tidak bisa berdekatan denganmu. Terlalu menyakitkan. Begini saja. Ini uang untuk sewa taksi. Jangan pake taksi abal-abal, ya! Aku tak mau kamu kenapa-kenapa.

Barbara mengulangi lagi adegan mengangguk-sok-imut-nya itu.

Mereka akhirnya benar-benar berpisah. Barbara mencegat taksi dan pulang dengan perasaan lega. Di dalam taksi, ia merenung bahwa betapa kesetiaan itu sangat mahal harganya.

Barbara terdiam dalam keheningan di dalam taksi. Hanya terdengar suara bergemeresak dari radio komunikasi taksi. Namun Barbara bisa mendengar suara orang di radio komunikasi itu memberi arahan, “Perhatian kepada armada GR di daerah pom bensin Dago, ada calon penumpang gupay-gupay!”

Barbara sampai dengan selamat di kosannya. Sesampainya di sana, telah menanti Sumanto yang berdiri menyandar di batang pohon rindang dengan kemejanya yang selalu terbuka dan angin mengibarkan rambutnya yang halus. Sumanto tak pernah mengancingkan kemejanya. Selain karena ia menyukai angin menerpa dadanya, ia pun merasa dadanya terlalu bagus untuk disembunyikan. Lagipula ia tahan angin malam.

“Hai, sayang! Aku pulang lebih cepat, nih! 'Coz, I miss you so much!

Barbara menatap pria itu. Ia pun menyadari satu hal, ia tak menyesali keputusannya, karena ternyata ia betul-betul mencintai kekasihnya itu.

Berhembus angin malam... mencekam. Dua sejoli itu pun berdansa di bawah sinar bulan yang temaram.

Ah... Kisah CInta Segitiga

Tuesday, January 19, 2010

Alay Seksi (Bagian 2)

(Cerita sebelumnya...)

Perasaan Barbara bercampur aduk karena SMS itu, berdebar-debar sekaligus bingung. Berdebar-debar karena sejak bertemu dengan sosok pria itu, ia terus teringat akan wajahnya yang tampan, dagunya yang belah, badannya yang seksi, serta tatapannya yang tajam. Bingung karena ia agak kurang bisa mengerti isi SMSnya, sehingga ia harus menggunakan usaha lebih untuk mencerna di otaknya. Namun semakin ia menyelami SMS itu, semakin ia merasa Alay keren juga.

“OMG... OMG... Oohh Eeemm Jiii... dia kayaknya pinter banget deh. SMS ajya pake kode-kodean segala. Dia hobi nonton atau baca kisah detektif kali ya? Hihi...” serunya pada dirinya sembari cekikikan sendiri.

Tak butuh waktu terlalu lama untuk berpikir, Barbara pun membalasnya, “Hai… gue belom bobo kok. Ini masih kreyep-kreyep.” Sesaat setelah ia mengirimkan SMS itu, ia menyesal. Kenapa ia menggunakan kata ‘kreyep-kreyep’. Ia merasa kata itu kurang elegan terdengarnya.

Tak sampai tiga menit kemudian, ponselnya berbunyi lagi, tanda SMS masuk, “oOh,,, b’aRty Q gK gHanK9o3 kHan??,, B-L3cH gK kaPhAn” q-Ta kTeMo3an 9ie??,, Wkwkwk,,,”

Kali ini Barbara berpikir agak panjang. Bukan karena deretan huruf dan angka yang melebur dan semakin membingungkan. Namun karena kondisi dilematis yang menderanya sehingga menjebaknya dalam proses kontemplatif yang jauh dari sederhana

“Ah apa yang kulakukan? Mengapa dorongan untuk bertemu dengannya terus mendera jiwa dan ragaku?” desahnya. Otaknya menyuruhnya untuk tak membalas lagi SMS itu. Namun syaraf motoriknya berkata lain. Kedua jari jempolnya yang mungil dengan kuku yang baru saja dilapisi kuku palsu bernuansa pink dan Hello Kitty dengan lihai memainkan tombol-tombol ponselnya untuk membalas SMS itu.

“Boleh ajya. Tapi jangan siang-siang ya. Karena gue vampir!” jawabnya. Sesuatu dari dalam dirinya begitu kuat mendorongnya untuk jujur saja sejak awal.

Lalu datang lagi balasan dari Alay, “W.O.W Q-mo3 fAmPhiRz?,, kReN b9Tz dHunKz??,,, ecH 9iMz k-Lo3 Q-Ta kTeMo3 mLm miN99u nY??,,, wkwkwk,,,”

Barbara menyatukan puzzle ingatannya tentang jadwalnya untuk malam minggu itu. Ia pun teringat kalau ia telah janjian dengan Sumanto untuk candle light dinner. Bahkan Sumanto berjanji mengajak Barbara untuk terbang ke tempat kencan mereka. Barbara sudah lama tidak terbang bersama Sumanto. Sementara ia sendiri tak bisa terbang.

Entah apa yang dipikirkan gadis labil itu, ia pun menjawab, “Boleh. Tapi ketemuannya agak dini hari gitu ya. Soalnya gue ada janji dulu sebelumnya. Eh gue udah pengen tidur nih. See ya!”

Alay pun membalasnya dengan, “MetH bO” eea,,,”. Dan proses SMSan pun berakhir. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya Barbara tak mau bertemu dengan makhluk manis itu karena takut jatuh cinta. Namun perasaan takut itu jauh-jauh terkubur karena alasan mumpung masih muda, mengapa tak bertemu dengan orang sebanyak-banyaknya saja? Kapan lagi?

Malam itu Barbara tidur dengan senyuman menghiasi wajahnya.

***

Malam Minggu masih beberapa hari lagi. Pada malam Jumat, Barbara mendapatkan kejutan dari kekasihnya. Bukan kejutan yang menyenangkan tepatnya. Sumanto mengabari bahwa ia mendadak tak bisa memenuhi janjinya untuk kencan pada malam Minggu itu. Ia sedang sibuk mempersiapkan kongres vampir se-Asia dan ia memegang tampuk seksi acara pada Pelatihan Memangsa Korban Tanpa Terlalu Lama Menyiksa.

Spontan, Barbara yang agak kecewa langsung mengirim SMS pada Alay agar janjian mereka dipercepat. Sudah barang tentu Alay setuju. Kini justru Barbara menjadi tak sabar menanti datangnya malam pertemuan mereka berdua. Barbara dan Alay bagaikan atlit yang sedang lari marathon, tak sabar untuk segera mencapai garis finish.

***

Malam itu datang jua. Malam yang dinanti-nanti oleh dua sejoli yang sedang hangatnya keceng-kecengan. Barbara berdandan maksimal. Ia menyemprot parfum kesayangannya berulang kali, sehingga wanginya bisa membuat bersin-bersin atau pusing, atau pingsan bagi beberapa orang yang paru-parunya lemah. Namun bagi Alay, aroma parfum itu sangat membangkitkan semangatnya.

Alay merasa bangga bisa kencan dengan wanita seksi macam Barbara. Tentu saja ia pun telah mempersiapkan gayanya sendiri. Rambutnya telah ditata di salon kepercayaannya. Tatanan rambutnya telah menjelma menjadi sangat ciamik: model asimetris, bagian atas yang meruncing, dilengkapi dengan poni yang menusuk mata. Alay tampak gagah memesona sejuta mata!

Alay menjemput Barbara dengan mobil sedannya yang telah dimodifikasi sedemikian hingga chassis-nya sangat rendah sampai menyentuh tanah dan suara yang dihasilkan knalpotnya sangat garang. Alay ternyata gaul adanya.

Di restoran tempat mereka kencan, mereka mulai mengenal satu sama lain. Sampai suatu titik, dimana Alay harus mengatakan sebuah kejujuran yang ia merasa berat untuk mengutarakannya. “Euh... Barbara. Karena kau sudah jujur padaku tentang identitasmu, aku pun ingin mengakui sesuatu,” Alay berkata dengan gugup dan ragu.

Barbara menunjukan wajah ‘apa sih rahasianya?’ pada Alay. Rasanya tak sabar ingin menguak tabir misteri kehidupan pemuda misterius itu.

“Sebenarnya, aku adalah werewolf alias manusia serigala!” kata Alay lekas-lekas.

Alih-alih terkejut, Barbara malah merasa lega, “Aah pantesan tatapan matamu begitu menerjang bagai serigala. Kenapa kamu nggak bilang waktu kita SMSan waktu itu?” Barbara telah mengganti panggilan gue-lo menjadi aku-kamu, pertanda ia telah merasa nyaman dengan Alay.

“Karena aku takut kamu akan langsung menolakku."

“Kenapa?” “Soalnya kan vampir musuhan sama werewolf. Kamu nonton film Twilight kan? Kan ada penjelasannya di sana.”

“Haha...” Barbara tertawa lepas menunjukkan giginya yang tidak terlalu putih dan kalau dilihat dari dekat, ada potongan cabe nyelip di antara geraham depan dan taringnya. “Nggak masalah kok. Soalnya aku juga hanya vampir jadi-jadian, nggak minum darah manusia dan masih suka makanan manusia.”

Alay tersenyum pertanda tenang akan penjelasan Barbara. Ia semakin melihat Barbara sebagai pribadi yang menarik nan unik. Walaupun saat itu ia lebih jelas melihat cabe yang nyempil di antara dua gigi gadis itu. Alay ingin memperingatinya, namun ia memilih untuk pura-pura tidak tahu saja. Lagipula menurutnya Barbara justru semakin cantik dengan aksen cabe yang menghiasi mulutnya.

“Tapi kamu nonton Twilight kan? Itu kan filmnya megang banget!” Alay berniat membuat sebuah bahan percakapan.

“Ah... nggak!” kata Barbara tegas. “Aku nggak suka Twilight. Aku kan generasi Buffy. Buffy is original, you know?!" katanya agak memaksakan pendapat.

“Hah? Generasi Buffy? E-emang umur kamu berapa?” tanya Alay ragu.

“25. Kamu?” tanya Barbara balik dengan polosnya.

Tiba-tiba raut wajah Alay menegang. Bagian tubuhnya yang lain juga ikut-ikutan menegang seketika... yaitu otaknya.

“Aku... eeuuuhh... 18,” katanya dengan suara memelan.

“Haaaaapppaaaahhhhh????” Barbara kaget.

Alay lebih kaget. Mereka kaget-kagetan. Ternyata umur mereka terpaut cukup jauh.

“Kenapa kau sangat bermutu? Bermuka tua maksudnya?”

“Karena aku ada darah bule. Leluhurku dari Indian.”

“Kamu ada keturunan Indian?! Pantesan seksi!!” Barbara teriak tak kuasa menahan gairah mudanya yang membludak.

Alay tertawa melihat ekspresi Barbara yang imut kalau sedang kaget. “Iya. Dulu, leluhurku pindah dari Amerika ke Indonesia. Dan akhirnya mereka pindah ke Grobogan, karena menurut mereka tempatnya asyik kaya di Tasik dan nyantai kaya di pantai.”

Barbara mendengarkan ceritanya dengan seksama. Kalau ia tak sadarkan diri, air liurnya sudah menetes dari tadi.

“Makanya mukaku tua begini. Biasanya orang bule yang masih belasan kan mukanya lebih tua daripada umurnya,” alih-alih malu, Alay malah bangga.

Kemudian Alay tersadar bahwa ada masalah yang lebih besar dari itu. Ia masih memikirkan mengenai masalah umur. “Oh... aku tak menyangka dia tua juga. Tapi... ooh... dia sungguh imut tak tertahankan. Apakah dia bakalan suka sama aku yang muda ini?” Alay berkata dalam hati.

Sementara Barbara masih terkagum-kagum dengan cerita leluhur Alay. “Ooh... eemm... jiii... He's so cool!! Oh... tidak Barbara! Jangan jatuh cinta padanya! Dia memang keturunan Indian yang juga manusia serigala! Tapi dia masih ABG!! Pasti labil deh!!” Barbara meyakinkan dirinya dalam hati.

Mereka terdiam dalam kosmos kekakuan yang fana.

Namun kemudian Alay memecah kesunyian yang dibentuk dari kekakuan itu dengan pertanyaan yang membuat Barbara kaget setengah mati. Karena memang begitulah Barbara, setengah-mati.

“Barbara, aku jatuh cinta padamu. Maukah kamu jadi pacarku?” tembak Alay tanpa tedeng aling-aling.

Barbara terdiam... Bingung... Resah... Dan gelisah... Bagai semut merah.

(Bersambung...)

Andrew Laysen a.k.a Alay

Monday, December 28, 2009

Alay Seksi (Bagian 1)

Barbara memiliki banyak hobi, dari mulai akting, nyanyi, sampai modeling. Namun dua hobi yang paling dia sukai adalah dugem dan bergaul. Sementara kekasihnya, Sumanto, sebaliknya. Hobinya adalah berada dalam ketenangan untuk sekedar membaca, memperhatikan gerak-gerik orang, sampai mencari mangsa tentunya. Mereka memang pasangan yang sangat berbeda sifatnya.

Seperti malam itu, Barbara tengah bersiap untuk pergi dugem di tempat paling hip. Sementara Sumanto lebih memilih untuk pergi ke sebuah kampus. Kampus adalah tempat yang paling ia suka untuk mencari mangsa pada malam hari. Ada beberapa kampus yang sampai tengah malam, bahkan sampai pagi lagi, masih banyak saja mahasiswa yang tinggal, baik untuk mengerjakan tugas, bikin contekan untuk kuis atau ujian, nebeng internetan, atau sekedar kongkow dan mengobrol sembari gi-gitar-an.

Menurut Sumanto, darah mahasiswa rasanya lebih segar dan enak. Apalagi darah mahasiswi cantik, lebih manis. Sementara darah mereka yang ber-IP tiga koma lima ke atas lebih encer dan cepat mengenyangkan, jadi sisanya bisa dibungkus dan dibawa pulang.

Tak jarang pula Sumanto menemukan mangsa yang sedang berada di dalam mobil. Kalau sudah begini, namanya juga vampir yang beringas bertemu dengan korban ketakutan yang meronta-ronta, maka mobil TKP pun goyang-goyang. Ternyata fenomena mobil goyang tidak melulu identik dengan kegiatan tertentu di dalamnya.

Satu lagi perbedaan yang mendasar adalah Sumanto masih meminum darah manusia sementara Barbara vegetarian alias tidak mengonsumsi darah manusia.

Barbara bersama Jessica, sahabatnya sekaligus teman sekosannya, sudah siap dengan setelan mereka: atasan ngatung dan celana jeans hipster. Bukannya mau sok seksi, hanya saja agar mereka bisa lebih bebas bergerak saat ajojing dan tidak gerah.

Mereka akan ke tempat dugem dengan angkot. Berdirilah mereka berdua di pinggir jalan, nyegat angkot. Tak berapa lama, angkot yang mereka ingin naiki sudah tiba di depan mereka. Kalau tempat di samping supir angkot kosong, mereka pasti duduk di depan. Sayangnya, tempat duduk itu sudah ada yang mengisi.

Mereka pun memutuskan untuk duduk di deretan kursi di bagian belakang. Karena celana yang hipster dan baju yang ngatung, maka saat mereka masuk ke dalam angkot dan berjalan menunduk untuk mencari tempat duduk, sebisa mungkin tangan mereka menarik bagian belakang celana masing-masing agar menutupi belahan pantatnya atau mencegah agar celana dalamnya tidak terlihat.

Tidak sampai setengah jam, mereka sudah tiba di tempat dugem kekinian yang mereka tuju. Malam sudah hampir larut, oleh karena itu suasana di sana sudah mulai penuh sesak.

Setelah mereka masuk, dimulailah hobi Barbara untuk berbaur dan berkenalan dengan sebanyak mungkin orang. Maklum, ia juga memiliki usaha MLM. Jadi memperluas jaringan adalah hal yang harus selalu dilakukannya.

Mudah bagi Barbara untuk berbaur dengan orang, karena ia memang lumayan cantik.

Seseorang menghampiri dan menyapanya, “Hai!”.

“Hai!” Barbara sontak menyahut dengan ramah.

“Seronok?” tanya laki-laki itu yang kepalanya botak dan kulitnya putih bersih.

“Hah?” Barbara tak mengerti. Dalam hatinya ia berpikir, apakah orang ini ngomong jorok?

“Hmm...” Pria botak itu tampak berpikir. “Bersenang-senang kah?” tanyanya kembali dengan logat yang dipaksakan.

“Ooohhh... iya. Sangat!” Barbara menangkap ada yang berbeda dari nada bicaranya.

“Sayeu Putera Kelantan, pemilik kelab ni,” katanya tanpa menunjukkan kalau ia pamer.

Mata Barbara berbinar-binar. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ia pun langsung berkenalan dengan orang nomor satu di tempat itu. Dan benar pula dugaannya. Dilihat dari cara berbicaranya, ia bukan orang Indonesia.

Mereka langsung akrab. Bahkan si Putera Kelantan, atau para bawahannya memanggilnya dengan Pangeran Kelantan, menceritakan seluruh kisah hidupnya. Ternyata Pangeran Kelantan pernah mengawini skuter (selebriti kurang terkenal) Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Namanya Manowar. Ibunya memang fans berat dari Manowar, sebuah band heavy metal tahun 80an. Untung saja namanya masih ramah di telinga. Bayangkan betapa kasihan si anak apabila sang ibu nge-fans-nya dengan band bernama Wacky Mecky Blues Band!

Pada awal kemunculannya, Manowar (dan ibunya) sering mengundang para pencari berita gosip untuk menyebarkan berita tentang kehidupan pernikahannya yang merana. Memang sih mengeluarkan banyak modal pada awal kemunculannya. Namun akhirnya usaha ibu dan anak itu menuai hasil. Manowar menjadi bintang sinetron kelas D yang namanya dikenal di kalangan pengikut berita gosip.

Namun lama kelamaan Manowar tampak tenggelam dari peredaran. Wajahnya yang biasa muncul di acara-acara kemanusiaan – yang ia buat sendiri untuk mendongkrak namanya – sudah jarang terlihat lagi. Alih-alih wajahnya yang keluar mengisi media, wajah ibunya lah yang semakin eksis. Menyurutnya Manowar di kancah hiburan dalam negeri bisa jadi karena beberapa hal berikut: 1. Badannya semakin menggemuk nan menggelambir, 2. Ia tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik karena itu tak bisa pula berkomunikasi dengan para kru dan tak bisa melafalkan dialog dengan fasih, 3. Ia memasang harga terlalu mahal (dimana sinetronnya yang terdahulu bahkan tak memenuhi target rating), 4. Wajahnya yang semakin terlihat seperti 30 tahun padahal usianya belum sampai 20 tahun, 5. Ia memang tidak bisa akting saja!

“Adeukah seronok sangat tempat ni buat kiteu dance?” tanya Pangeran Kelantan.

“Iya datuk. Sangat seronok. Besok-besok free pass ya!” katanya SKSD.

Mereka pun berpisah dan Barbara langsung clingak-clinguk mencari kira-kira siapa lagi yang bisa ia jadikan teman atau sekedar kenalan.

Tapi Barbara kebelet pipis. Pergilah ia ke WC wanita. Saat keluar dari WC, tak dinyana, ia bertabrakan dengan seorang pria yang baru saja keluar dari WC pria yang letaknya berhadapan dengan WC wanita.

“Aduh!” Barbara jatuh terduduk karena bertubrukan dengannya.

“Hmm... Tubuhnya kencang juga,” pikir Barbara dalam hati.

Laki-laki itu membantunya untuk bangun. Dan disanalah tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya. Tak seperti kekasihnya, Sumanto, yang berkulit pucat, pria ini berkulit cokelat matang. Sangat seksi. Ada belahan di dagunya, macam Lorenzo Lamaz. Ia mengenakan kaus putih ketat sehingga memperlihatkan otot lengannya yang aduhai. Di tambah lagi dengan sorotan lampu disko, yang semakin mempertegas otot perutnya yang prima.

Saat tatapan mereka bertemu, Barbara berdebar-debar. Namun ia tak ingin meneruskan keberdebar-debaran itu. Ia takut selingkuh. Maka ia pun langsung meninggalkannya tanpa mengucapkan terima kasih.

Terkadang Barbara suka mabuk kepayang kalau melihat sosok pria tampan. Maka ia biasanya butuh udara segar untuk mengembalikan kesadarannya. Barbara pun keluar dari gedung kelab itu. Angin malam yang kencang menerpa rambutnya. Macam di pantai saja.

“Hei!” tiba-tiba ia dikagetkan oleh sebuah suara di belakangnya.

Barbara menoleh. Saat menoleh, rambutnya terkibarkan oleh angin malam yang cukup kencang. Merasa kurang seksi, Barbara pun dengan sengaja menggoyangkan-goyangkan kepalanya dengan lambat, agar rambutnya lebih terkibar lagi.

“Eh... hai!” jawab Barbara kikuk. Ia berhenti menggoyang-goyangkan kepalanya saat ia merasa agak pening.

“Kenapa kau keluar?” Pria itu bertanya sok akrab. Suaranya serak-serak basah.

“A-aku mencari udara segar. Di dalam pengap sekali.” Barbara menjawab dengan tambah kikuk karena tubuh atletis pria itu lebih kentara di bawah sorotan lampu tempat parkir.

Laki-laki itu berjalan sedikit-sedikit menghampirinya.

“Boleh kenalan?” Ia bertanya.

“B-boleh!” Barbara menjawap gugup.

Saat ia sudah berjarak satu langkah dari Barbara, ia menjulurkan tangannya.

“Aku Andrew Laysen!” katanya sambil dipertegas dengan sorot mata yang tajam. “Tapi biasanya orang-orang memanggilku Alay.”

“Barbara!” sahut Barbara menyambut jabatan tangannya.

“Ah nama yang indah.” Alay seperti teringat sesuatu, “Tapi kok kaya nama travel ya?”

“Mungkin maksudmu itu adalah Baraya?!” Barbara mengoreksi.

“Oh ya, maaf,” Alay tertawa kecil. “Maaf, soalnya aku baru saja pindah ke sini.”

“Memangnya kamu dari mana?” Barbara bertanya.

“Aku dari Grobogan.”

“Ooooh... pantas ganteng!” Barbara spontan berteriak tanpa kendali.

“Ha?” Alay tampak tak mengerti.

“Eh... maaf maksudnya...” Barbara mencoba mengoreksi kata-katanya. “Aku punya beberapa teman dari Grobogan, dan euh... semuanya ganteng-ganteng. Bukan berarti kamu ganteng juga ya, dan bukan berarti kamu punya badan bagus, eh... tapi... ah sudahlah lupakan saja” Barbara salting. Alih-alih menatap pria di hadapannya, wajahnya dihadapkannya ke arah angin berhembus, agar rambutnya terkibar ke belakangnya.

Alay tersenyum kecil. Namun tatapan matanya semakin dipertajam. Alisnya yang lebat mempermudah usahanya untuk mengendalikan sorot matanya. Dalam hatinya sudah tumbuh bulir-bulir asmara.

Alay kemudian melancarkan aksinya dengan menanyakan facebook dan nomor telepon Barbara. Tapi Barbara jual mahal dong. Ia tidak balik menanyakan facebook dan nomor ponsel Alay. Pertemuan mereka berlalu begitu saja.

Barbara tiba di kosannya pukul 3 pagi. Untung angkot Kalapa-Dago standby 24 jam.

Sebelum tidur, tak lengkap rasanya kalau Barbara tak menelepon atau meng-SMS sang kekasih. Namun setelah mengirim SMS-nya yang terakhir yang berisi “Meth bobo ya chayank. ILU IMU INU ;)”, Barbara merasa sangat ingin menghubungi orang lain. Orang yang baru ditemuinya namun sudah memenuhi benak dan rongga jiwanya. Dia sangat ingin menghubungi Alay.

Namun tentu saja ia tak bisa melakukannya karena ia tak memiliki nomornya. Ia pun memejamkan matanya. Siapa tahu besok sosok itu akan bisa dilupakannya.

Baru saja beberapa menit Barbara memejamkan mata, ia disadarkan oleh sebuah bunyi dari ponselnya. Ada SMS masuk. Barbara meraih posel yang berada di samping bantalnya. Ia membuka fitur SMS-inbox dan melihat apa isinya.

Di sana tertulis nomor tak dikenal.

Saat dia buka, begini isinya:

“HiY,,, niY 4L4yZ!!!,,, mAzicH iNg3tH gK???,, q-mO3 o3DacH bO2 bLo3Mz???,,, b-LecH n9oBz2???,,, wkwkwk,,,”

Ah ternyata SMS itu dari Alay!

(Bersambung…)

Tentu saja Alay tidak seperti ini

Saturday, December 19, 2009

Kualat Saya!: Bulan Baru (Bagian 2)

(Cerita sebelumnya…)

“M-mau apa kamu kesini? Ini kan kos-kosan perempuan?” Walaupun takut, Barbara mendekati pria itu.

“Aku adalah vampir. Dan aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu! Wajahmu mirip idolaku, Ratu Felisha.”

Barbara tersipu. Sebenarnya dia agak tidak terima dibilang mirip Ratu Felisha, karena dia merasa mirip Luna maya.

“Aku juga jatuh cinta padamu karena kau sangat berani menyusuri kuburan itu hampir setiap tengah malam. Kau cewek pemberani!” Sumanto memujinya.

Barbara semakin ge-er. Karena Sumanto berwajah tampan dan berbadan bagus, Barbara pun langsung balik jatuh hati padanya.

Sumanto

Merasa sudah cukup kenal, Sumanto mengajak Barbara untuk terbang bersamanya. Ya! Terbang betulan. Sumanto ingin sekali menunjukkan dunia ini dari atas kepada Barbara. Maka ia pun menggendong Barbara dan terbang menclak-menclok dari satu pohon ke pohon yang lain.

Ah, Barbara sangat senang. Namun lama-kelamaan, dia mual juga. Selain mabuk udara, Barbara juga masuk angin, efek dari terbang malam-malam pake tanktop. Karena kondisi Barbara yang mulai mengkhawatirkan, maka Sumanto memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka malam itu.

Sesampainya di daratan, Barbara muntah-muntah di semak-semak. Saat muntah-muntah itu, Sumanto membantu menyibakkan rambut ekstensinya itu. Sumanto tergiur melihat lehernya yang putih dan mulus. Bukan apa-apa, dia hanya merasa lapar saja.

Namanya juga vampir, kalau melihat leher apalagi yang putih mulus tak berdaki, bawaannya ingin mencicipi darah yang mengalir di dalamnya. Begitupun yang terjadi padanya. Tanpa tedeng aling-aling, Sumanto menggigit leher Barbara. Barbara yang mabuk, menurut saja. Namun karena Sumanto mencintai Barbara, dia tak mau menghabisi darahnya. Dia ingin menjadikannya vampir juga sebagai teman hidupnya. Barbara pun dengan senang hati (karena dalam kondisi tak sadar) menyerahkan dirinya untuk jadi vampir.

Keesokan harinya Barbara bangun dengan perasaan gundah. Dia memikirkan bagaimana kalau nanti keluarga dan semua temannya mati, sementara dia masih hidup. Bakalan garing sekali hidupnya!

Aaah, dia merasa menyesal telah menyerahkan dirinya hanya untuk menjadi seonggok vampir. Lagian percuma juga menjadi vampir di Indonesia, tidak bisa nakut-nakutin orang! Wong orang Indonesia lebih takut sama pocong dan kunti.

Dia mengingat kata-kata ibunya di Garut: “Kalau ada vampir yang mau menjadikan kamu vampir juga, jangan mau ya, Nak!”

Barbara semakin menyesal karena melupakan nasihat ibundanya. Dia merasa menjadi seorang anak yang kualat.

Namun daripada pusing, mendingan nonton Insert. Sudah jam 11 nih. Dinyalakan tv-nya. Eh ada berita tentang Sheila Marsia yang sedang hamil. Barbara pun seketika merasa menjadi sahabat Sheila Marsia. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Sheila. Mungkin kondisi Sheila dulu sama dengannya, tengah mabuk saat dihamilin.

Seharian Barbara terpekur sendirian di kosannya. Semua jendela ditutup karena dia sudah tak kuat menghadapi sinar matahari. Sumanto sedang tidur di dalam lemari. Semakin gelap, semakin bagus untuknya. Akibatnya, tempat tidur Barbara penuh oleh barang-barang yang dikeluarkan dari lemarinya.

Walaupun menyesal telah menjadi vampir, toh nasi sudah menjadi bubur. Maka meski merasa kualat, dia memutuskan untuk menikmati saja hidupnya yang masih lama akan berakhir. Diperkirakan dia dan vampir lainnya akan musnah pada saat kiamat. Namun kiamat masih lama, paling cepat tahun 2012 yang masih tiga tahun lagi, sehingga dia memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai dan menonton televisi seharian.

Tak terasa hari sudah malam. Ini adalah malam minggu. Barbara pun bersiap bergegas menuju jalan Dago. Di sana pasti sudah berkerumun ABG-ABG labil yang kerjaannya ngamen dan bikin macet.

“Ah pasti darah mereka segar! Darah muda gitu loh... Darahnya para remaja!” pikir Barbara.

Musik Rhoma Irama mengiringi kepergiannya.

Kualat Saya!: Bulan Baru (Bagian 1)

Pada suatu tengah malam yang berkabut, seorang gadis cantik ber-hair extension menyusuri jalan setapak yang diapit oleh dua lahan luas yang dijejali gundukan tanah dan nisan.

Lolongan anjing tak membuatnya gentar. Dia anggap saja itu sebagai suara Shakira. Mirip soalnya. Hembusan angin malam tak membuat tatanan rambutnya berubah. Itulah kelebihannya hair ekstensi. Tidak seperti rambut asli, rambut sambungan itu kaku, sehingga tatanannya tetap eksis.

Walaupun demikian, angin tengah malam tetap membuat tubuhnya merinding, kedinginan. Memang salah dia juga sih, sudah tahu akan melewati kuburan malam-malam, dia tidak membawa cardigan. Alih-alih memakai baju yang bisa menghangatkan, Barbara malahan memakai tanktop dan rok mini, lengkap dengan high heels-nya. Rupanya dia keseringan nonton film-film Indonesia-berjudul-vulgar-nan-berkualitas-sinetron, dimana karena buruknya cerita dan aktingnya, maka satu-satunya yang menjual adalah wilayah dada dan paha para pemeran perempuannya.

Sebuah pertanyaan besar menggelayut: ‘apa yang dilakukannya malam-malam di kuburan?’. Mau minta wangsit kah? SDSB kan sudah tidak jaman, Neng!

Yah namanya juga cerita horror. Maka beginilah bagaimana biasanya sebuah kisah horror bermula: lalakon yang menghampiri tempat gelap, seram, dan sepi. Suasana seperti itu cocok untuk membuat para penikmat cerita horror berdiri bulu kuduknya (omong-omong, kalau cerita horror bisa membuat bulu kuduk berdiri, maka bagian manakah yang berdiri kalau sedang menikmati film porno?).

Barbara memang harus melewati kuburan itu setiap malam untuk pulang ke kosannya. Ini adalah bulan baru, jadi gadis itu baru saja gajian. Namun walaupun dompet dan rekeningnya sudah terisi kembali, dia enggan naik ojeg untuk melewati kuburan itu. Ojeg sekarang mahal. Pengiritan, katanya.

Sembari kakinya melangkah, terngiang-ngiang di telinganya apa wejangan dari Jessica, teman kosan sekaligus sahabatnya. “Kalau melewati pohon rambutan di tengah kuburan, jangan menoleh!” begitulah nasihatnya.

Namun beginilah efek psikologisnya: saat seseorang diberi peringatan ‘jangan!’, maka orang itu justru akan melakukannya. Contohnya adalah Lady Gaga. Kenapa dia tidak pernah terlihat memakai celana panjang? Karena semua orang bilang ‘hei, jangan pake celana dalem doang dong!’ padanya. Maka begitulah jadinya. Setiap hari Lady Gaga hanya memakai celana dalam saja.

Maka berhentilah Barbara, tepat saat dia melewati pohon rambutan itu. Ada bunyi gemeresak datang dari arah sana. Suara gemeresak itu datang dari salah satu dahannya, beberapa sentimeter di atas kepalanya. Dia pun mendekatinya dengan ragu-ragu. Semakin dekat dia dengan pohon itu... semakin dekaaatttt... Dia memberanikan diri untuk melongok untuk memastikan ada apa di atas dahan pohon besar itu.

“Gusrak!!” Bunyi yang terakhir itu sangat keras dan tiba-tiba.

“Kyaaaaa!!!” Barbara berteriak nyaring sok imut dengan ekspresi wajah datar. Persis seperti para pemeran film Hantu Ambulans.

“Ngeooong!” Ah ternyata itu hanya kucing yang seluruh tubuhnya hitam. Tak ada sesuatu yang berarti.

“Hhhh...” Barbara menghela napas panjang. Dia pun berjalan menjauhi pohon rambutan itu.

Sudah tampak di pelupuk mata apa yang menjadi tujuannya. Sebuah rumah besar yang tampak menyeramkan. Rumah itu adalah kosannya. Entah apa yang dipikirkan Barbara sehingga mau ngekos di sebuah rumah sangat besar dan kuno, di pedalaman sebuah kuburan, dengan ibu kos yang suka menyinden setiap jam dua malam.

Tepat disaat dia hendak memasuki gerbang rumah yang berupa pagar tinggi berjeruji dan mengeluarkan suara berderik saat bergerak karena tertiup angin, dia mendapati sebuah pemandangan yang membuat dadanya sesak.

Di depan pintu rumahnya, berdiri sosok pemuda. Ia mengenakan sebuah kemeja yang sama sekali tak dikancingkan, sehingga memperlihatkan dadanya yang bidang dan perutnya yang kotak-kotak. Celananya agak melorot sehingga memperlihatkan pelviksnya yang seksi. Laki-laki itu berwajah pucat, namun bagi Barbara dia sangat tampan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya, menyisakan jari jempolnya yang tetap terlihat. Pemandangan seperti itu persis seperti iklan celana dalam pria.

“S-siapa kamu?” Barbara memberanikan diri bertanya.

“Aku Sumanto!” Pria itu menjawab dengan suara yang dalam dan tatapan yang merasuki jiwa setiap cewek ABG.

(Bersambung...)

Barbara

 

Pink Girlz Blogger Template | Blogger Clicks Design